Waktu #3

Cerita ini adalah lanjutan dari Parsial Kedua


Parsial Ketiga

Pintu itu hampir habis digedor oleh sosok hitam itu. Mereka berdua menjauh dari pintu. Rudi terdiam melihat pintu itu, ia tidak tahu apa yang wanita itu lihat di jendela yang jelas sekarang dia bergerak ke sana-sini. Wanita itu lalu menarik lengan Rudi dan membawanya ke belakang. Mereka bersembunyi di ruang bawah tanah yang tidak begitu luas.

“Apa tidak ada pintu belakang?” Rudi berbisik.

“Astaga. Aku tidak memikirkan itu. Aku panik melihat kedua mata merah itu. Kita bersembunyi di sini sampai dia melewati kita, setelah itu kita lari ke luar. Bukan ide bagus, kutahu, tapi bisa kita coba.”

Suara pintu yang hancur terdengar di sebelah kanan mereka. Keadaan sangat sunyi seketika. Sebuah langkah kaki yang sangat berat menyentuh lantai terdengar mendekat. Nafas Rudi tersengal-sengal, ia menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya. Langkah kaki itu kini melewati depan pintu ruang bawah tanah lalu berjalan terus hingga ke sebelah kiri. Ketika langkah itu terdengar sedikit jauh wanita itu membuka pintu perlahan, sosok hitam itu tidak seperti yang pernah ia lihat. Itu seperti manusia, atau atlet binaraga, yang hangus terbakar.

“Ayo. Aba-abaku, kau lari pertama. Aku berada di belakangmu.” Bisik wanita itu. Ia membuka lebar pintu hingga berderit. Sosok itu berbalik melihat mereka berdua. “Lari!” Teriaknya dan Rudi langsung berlari keluar tanpa melihat ke belakang, ia menuju kegelapan di luar sana. Wanita itu tepat di belakangnya, mereka berdua berlari lurus tanpa tahu ke mana mereka pergi.

Rudi berhenti dan punggungnya tertabrak wanita itu. Ia menyalakan ponselnya dan mengaktifkan senter. “Ke mana?” Ia mengarahkan senternya ke kanan-kiri.

“Aku tak tahu. Sulit menjelaskan kita ada di mana, semuanya hitam. Berjalan sampai menemukan bangunan saja, aku bisa mengenali jika begitu.”

Mereka berjalan hingga menemukan sebuah bangunan. Setelah mengelilingi bangunan itu, wanita itu berhenti. “Ada apa?” Tanya Rudi.

“Ini pabrik.” Jawabnya.

“Dekat dengan rumah? Bukankah seharusnya jauh?”

“Entahlah. Mungkin kita berlari sangat cepat. Aku saja sampai menubrukmu dengan keras.”

“Baiklah kalau begitu.” Rudi berjalan diikuti oleh wanita itu mencari pintu masuknya. Mereka menemukan sebuah gerbang yang terbuka.

“Aku berani sumpah itu sudah kututup terakhir aku kemari.” Mereka berjalan masuk. Suasana begitu hening sampai Rudi bisa mendengar nafas wanita itu. Halaman pabrik itu cukup luas. Mereka terus berjalan hingga menemukan sepasang pintu besi yang sudah berkarat. Wanita itu bilang ada cara tersendiri membukanya, ia menarik sesuatu di pinggir pintu dan pintu itu terbuka lebar dengan sendirinya. 

Isi pabrik itu kosong. Tidak ada perabotan atau alat-alat berat. Ponsel berdering lalu diangkat oleh Rudi.

“Atas.” Suara anak perempuan terdengar. Lalu menutup telponnya kembali.

“Apa katanya?” Wanita itu menatap Rudi.

“Atas.”

“Ayo lewat sini. Senteri jalanku.” Wanita itu memimpin.

Mereka sampai di tangga menuju ke atas. Cairan merah berbau busuk yang sangat menyengat melumuri anak-anak tangga. Mereka naik perlahan-lahan.

Cairan merah seakan menuntun mereka ke sebuah ruangan di lantai atas. Ruangan itu megah dan gelap. Tiba-tiba lampu tengah di ruangan itu menyala. Seorang anak perempuan berdiri di bawah lampu itu.

“Evelin!” Rudi mendekat memeluk anak perempuan itu. Anak itu membalas pelukan Rudi. Mereka saling mengobrol.

Sementara wanita itu melihat meja di sebelah kirinya yang penuh dengan kertas-kertas bertuliskan aneh.

“Ke mana saja kau selama ini?” Tanya Rudi kepada anaknya. 

Wanita itu mencoba membaca tulisan-tulisan aneh tersebut namun tak bisa. Ada foto-foto yang sepertinya diambil secara cepat hingga hasilnya buram. Ia memeriksa tumpukkan foto itu.

“Kau sudah makan, sayang? Habis ini kita akan pergi dari sini, kita akan ke pantai.”

Wanita itu melihat sebuah foto yang ia kenali. Foto itu menunjukkan seorang pria dan anak perempuan yang sedang dipeluknya. Ia melihat Rudi lalu tersadar posisi Rudi sama persis seperti di foto. “Rudi…”

“Ayo, sayang, kita pergi.” Rudi ingin menggendong anak perempuannya namun tak bisa, ia berpikir mungkin karena ia terlalu lelah.

“Tidak ingin.” Anaknya berbicara.

“Rudi…” Wanita itu melihat sekumpulan foto yang membuatnya teringat sesuatu.

“Kenapa, sayang? Kau tak ingin pergi?”

“Kita di sini saja.” Ucap anak perempuannya.

Wanita itu melihat foto anak perempuan yang kini ia mengingatnya. Itu dirinya. Ia mengingat semuanya. Alasan ia ada di sini. Ia mencari ayahnya yang sudah lama menghilang. “Rudi. Kita pergi dari sini sekarang!” Ia menarik Rudi.

“Anakku tidak ingin pergi!” Bentak Rudi.

“Berarti dia bukan anakmu! Ayo!”

“Pergi saja, ayah, aku tidak ingin.” Rudi terkejut mendengar suara yang berat keluar dari mulut anaknya.

Wanita itu menarik lengan Rudi, mengajaknya berlari hingga ke lantai bawah kembali. “Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi yang jelas, ini seperti sebuah percobaan.” Jelas wanita itu sambil berlari menuju pintu.

“Maksudmu?” Keadaan sudah cerah saat mereka keluar dari pabrik.

“Aku ada di sini untuk mencari ayahku yang meninggalkanku. Aku ingat semuanya sekarang. Aku Evelin.” Tiba-tiba saja sebuah mobil menabrak mereka berdua. Jalanan kini ramai orang berlalu-lalang. Mereka berdua dikerumuni oleh orang-orang yang lewat. 

“Seseorang telpon ambulans!” Teriak seorang lelaki.


Epilog

Di sebuah layar, seseorang berlari ke sana-sini. Di layar lain seorang wanita sedang makan di sebuah bak sampah. Seorang anak perempuan menangis di sebuah pabrik di layar yang lain. Layar satunya menujukkan seorang pria yang berlarian di sebuah gang kecil dengan senter. Semua layar itu menunjukkan tiga orang yang berada di tempat yang sama.

Terdengar suara obrolan yang bahasanya asing. Sebuah sosok hitam bermata merah berdiri di dalam sebuah kandang. Sesuatu memakai baju yang terlalu besar berwarna kuning, jari-jari tangannya panjang dan pucat. Ia memerintahkan yang berbaju sama dengannya di sebuah kendali. Sebuah mesin berderu.

Dari luar terlihat sebuah benda persegi melayang ke angkasa lalu menghilang di udara.

Tamat.


Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started