Cerita ini adalah lanjutan dari Parsial Pertama
Parsial Kedua
“Anda sudah terjaga?” Tanya seorang wanita dari dekat jendela. Pakaiannya seperti tidak pernah diganti.
Rudi menjepit keningnya dengan kedua jari. Kepalanya terasa seperti habis dihantam. “Saya di mana?” Ia mulai bangkit dari sofa.
“Saya menemukanmu tergeletak di Gang Setan. Untunglah bukan dia yang menemukanmu. Sebentar lagi Waktu Merah akan selesai.” Dia menengok ke arah Rudi. Cahaya di dalam ruangan itu sangat temaram. “Kau baru pertama kali ke sini?”
Rudi berdiri, teringat dengan anaknya yang belum ketemu. “Aku mencari seseorang yang hilang.” Ia segera menghampiri pintu ketika wanita itu berbicara.
“Bukankah kita semua begitu? —Hei apa yang kau lakukan?!” Ia menyingkirkan tangan Rudi dari gagang pintu. “Kau ingin membuat kita ketahuan?”
“Maksudmu?”
“Kau benar-benar tidak tahu? Kenapa kau datang ke tempat ini?”
“Kami mengalami kecelakaan saat sedang ingin ke suatu tempat. Anak perempuanku hilang ketika aku terbangun. Aku mengikuti jejaknya sampai ke pemukiman ini. Aku bertanya pada seorang penjaga warung, namun ia tak melihatnya—”
“Itu mustahil.” Selanya.
“Mustahil untuk menemukan anak perempuanku?” Tanya Rudi.
“Bukan. Mustahil kau menemukan manusia di tempat ini. Aku sudah seminggu di sini dan tak menemukan satu orangpun kecuali kau, selebihnya aku hanya melihat dia dari jauh.”
“Maksudmu aku berhalusinasi? Dan siapa yang kau bicarakan? Dia siapa?”
“Aku tak tahu persis. Yang jelas dia tidak seperti manusia. Aku tak bisa menjelaskan, aku tidak pernah melihatnya dari dekat.”
Secercah cahaya muncul dari sela-sela gorden.
“Kau bilang, kau ke sini mengikuti jejak. Ayo tunjukkan padaku.”
Wanita itu membuka pintu dan Rudi bisa melihat langit yang sudah cerah.
“Bukankah seharusnya matahari ada di atas kita dengan sinar seperti ini?” Rudi melihat ke atas. Langit sangat biru bersih tanpa awan, dan matahari.
“Entahlah, aku juga rindu melihat itu.”
Mereka berjalan hingga menemukan warung kopi yang semalam Rudi datangi. Akan tetapi warung itu telah dibarikade dengan papan-papan kayu. Rudi lalu melanjutkan dengan mencari tapak terakhir jejak itu yang ia yakini ada di belokan yang berada di tengah-tengah tembok itu. Mereka berjalan ke sana lalu berbelok dan tidak menemukan hutan yang semalam, melainkan sebuah jalan seperti tadi. Rudi berbalik arah lalu berbalik lagi dan lagi memastikan kedua jalan itu.
“Kedua jalan ini sama! Ini seperti cerminan dari jalan tadi! Bagaimana bisa?!” Wajahnya memerah dengan keringat bercucuran dari pelipisnya.
Wanita itu bersandar di tembok. “Aku tahu kau takkan menemukan jalan asalmu. Karena seperti itulah aku saat menemukan jalan ini. Kita tak akan bisa keluar dari sini.”
Rudi kini tengah duduk dan bersandar juga di sebelah wanita itu. “Bagaimana kau bisa ke sini?” Matanya menatap ke depan. Kosong.
“Anggap saja sama denganmu, namun aku tidak mencari anakku. Aku juga tidak tahu apakah aku sudah di sini selama seminggu, aku mengarangnya. Kau lapar?” Wanita itu berdiri.
“Ada makanan di sini?” Rudi ikut berdiri.
“Kau pikir bagaimana aku berhasil hidup sampai saat ini?”
~~~
Mereka sampai di sebuah tempat sampah besar di belakang sebuah bangunan seperti pabrik. Rudi merasa isi perutnya ingin keluar membayangkan bahwa ia harus makan makanan busuk. Wanita itu membuka penutup bak sampah dan aroma daging panggang menyeruak menusuk ke hidung Rudi membuat perutnya bergejolak. Rudi tak percaya akan aroma ini, ia melihat ke dalam bak sampah dan melihat bak itu berisi sup berwarna merah kental. Wanita itu mencelupkan tangannya ke dalam dan menangkup sup kental itu dengan telapak tangannya lalu menyeruputnya.
“Cobalah. Rasanya jauh lebih lezat dari apa yang terlihat.”
Rudi diam sejenak menatap bak itu. “Ini berasal dari mana? Kau yakin ini daging?”
“Jangan merusak nafsu makanku. Coba saja. Jangan bertanya apapun lagi sampai aku selesai makan.” Wanita itu mencelupkan tangannya kembali.
Rudi mencelupkan tangannya, merasakan hangat dari sup itu, dan menyeruput dari telungkup tangannya. Rasa daging sapi panggang dengan bumbu-bumbu rempah yang beraneka ragam meluncur menghangatkan tenggorokannya dan berakhir ke perutnya. Mereka berdua menikmati sup itu sampai tak mampu menyeruput lagi.
Wanita itu duduk dan diikuti oleh Rudi. Wajahnya terengah-engah lalu ia bersendawa. “Maaf.”
Rudi masih menyimpan pertanyaan yang ia ingin tanyakan sedari tadi namun lupa karena terbawa oleh lezatnya sup itu. “Siapa yang membuat sup ini?”
“Ah… banyak yang sampai sekarang belum aku ketahui jawabannya. Yang jelas isinya selalu sama setiap hari. Aku tak peduli itu terbuat dari daging sapi asli atau bukan, yang terpenting itu bisa membuatku tetap hidup dan waras di tempat ini.”
“Omong-omong, kita belum mengenal nama satu sama lain. Aku Rudi.”
“Aku lupa nama.” Wanita itu tertawa. “Sudah sangat lama setelah terakhir kali seseorang memanggil namaku. Ingatlah terus namamu, Rudi. Kau tak perlu namaku, hanya kita berdua yang berada di tempat sialan ini!”
“Kalau begitu, apa kau sudah mencoba berkeliling?” Rudi masih penasaran dengan tempat ini.
Wanita itu bangkit berdiri. “Ayo, aku ajak kau berkeliling!” Nada bicaranya sangat antusias. Dia mengulurkan tangannya dan Rudi memegangnya untuk membantunya berdiri.
~~~
Mereka sampai di bangunan seperti toko swalayan. Semua makanan dan minuman yang ada di sana, atau pernah berada di sana, tergantikan dengan debu-debu tebal di setiap rak. Wanita itu lalu mengajaknya ke tempat-tempat lain yang kondisinya sama. Satu hal yang membuat Rudi pasrah dengan keadaan adalah fakta bahwa tempat ini berbentuk persegi dengan tembok tebal yang cukup tinggi mengelilingi semua blok, setiap bagian tengah sisi tembok terbuka cukup lebar yang jika dimasuki akan sama saja seperti sisi lain tembok itu. Mereka kini sudah kembali ke ruang tamu di rumah tempat Rudi terbangun. Wanita itu menutup pintu dibelakangnya dan menguncinya.
“Dikit lagi pasti akan Waktu Merah. Kita harus menunggu di sini dan berdoa dia tidak akan datang kemari.” Dia duduk di sofa tempat Rudi tadi.
Rudi duduk di sofa seberang wanita itu. “Kenapa kau menamainya Waktu Merah?”
“Aku kira kau cukup pintar untuk tidak menanyakan itu. Kau sudah tahu ‘kan? Langit akan memerah dan jalanan akan gelap. Aku menamainya seperti itu karena namanya sudah jelas!” Wanita itu membungkuk dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Tapi bukannya harus malam terlebih dahulu?”
“Ini adalah malam bagi tempat ini, kurasa.”
“Tapi waktu aku sampai di sini, langitnya gelap dan ada lampu-lampu. Oh astaga! Di mana ponselku?!” Rudi memeriksa setiap kantung di badannya.
“Oh. Itu ada di sana, benda itu sudah tidak memiliki daya.” Wanita itu menunjuk meja sebelah kanannya.
Rudi berdiri mengambilnya dan menekan tombol daya, namun layarnya tetap gelap. “Apa kau membiarkan senternya menyala?” Ia menengok ke arah yang sepertinya arah wanita itu duduk. Cahaya sudah menghilang.
“Ponsel itu sudah mati saat aku menemukanmu.”
“Bagaimana kau bisa melihat saat Waktu Merah?” Rudi sekarang meraba-raba jalan di depannya dan duduk di sofa.
Suara wanita itu ternyata tepat di sebelah ia duduk. “Bodoh. Aku menemukanmu saat Waktu Biru. Suatu keberuntungan bagimu bisa selamat sampai Waktu Biru. Lagipula kenapa kau bisa sampai di Gang Setan?”
Rudi menjelaskan dari melihat anaknya masuk ke sana hingga dikerumuni oleh anak-anak kecil tanpa kepala itu.
“Wow. Aku juga pasti akan pingsan jika bertemu yang seperti itu.”
“Kau belum pernah bertemu mereka? Apa mungkin kau bertemu setan lain di Gang Setan itu?”
“Aku bertemu yang lebih seram dari itu.”
Rudi terdiam membayangkan apa yang lebih seram dari yang pernah ia lihat.
Wanita itu tertawa. “Aku tidak pernah ke sana saat Waktu Merah. Aku menamainya Gang Setan karena Gang setan itu terus membuatku tersesat saat menyeretmu.”
Rudi menyentuh belakang kakinya, itu jawaban dari rasa perih yang ia rasakan sepanjang waktu. Rudi hendak berdiri ketika suasana mendadak terang benderang selama sedetik.
“Apa itu tadi?” Wanita itu berdiri.
Sebuah cahaya memancar dari arah meja. Layar ponsel Rudi menyala. Rudi menghampiri. Itu sebuah telpon, untunglah ponselnya tidak bersuara. Nomor pemanggilnya tidak seperti nomor telepon biasa, angka-angka itu seperti dibuat sembarang yang seharusnya mustahil bisa menelpon dengan nomor seperti itu. Rudi menjawab. Suara statis seperti radio terdengar dari telpon itu.
“Halo?” Rudi ingin mematikan panggilannya ketika sebuah suara anaknya terdengar.
“Pabrik.” Hanya satu kata itu yang terdengar.
“Apa, sayang? Kau di mana?”
“Pabrik. Pabrik. Pabrik. Pabrik. Pabrik. Pabrik. Pabrik. Pabrik.” Suara itu terus menerus berulang sampai akhirnya diganti dengan nada panjang yang sangat bising mengganggu telinga, suaranya cukup lama hingga memenuhi ruangan lalu akhirnya berakhir disertai juga panggilannya.
“Pabrik tempat kita makan tadi?” Tanya Rudi kepada wanita itu.
“Satu-satunya pabrik di sini. Aku pernah ke sana, tak ada apapun.”
“Mungkin karena Waktu Biru. Kita harus segera ke pabrik sekarang.” Rudi berjalan ke pintu namun dihadang oleh wanita itu.
“Kau gila?! Jalanan sangat gelap!”
Rudi menyalakan senter di ponsel pintarnya.
“Oh. Baiklah. Tapi kita harus memastikan sekitar aman.” Wanita itu membuka gorden yang disinari oleh senter, memperlihatkan sebuah sosok hitam pekat dengan mata merah menyala sedang menatap tepat di jendela depan wanita itu.
Baca lanjutannya di=> Parsial Ketiga.
Leave a comment