Parsial Pertama
Mobil itu melaju di kegelapan. Rudi, dan anak perempuannya yang sedang tertidur di kursi belakang, hendak pergi berlibur ke pantai Anyer. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi buta agar bisa menghabiskan waktu di sana seharian penuh, juga karena Rudi hanya dapat cuti dua hari oleh kantornya.
Setelah perceraian setahun lalu, anak perempuannya selalu tinggal bersama orangtua Rudi. Mereka jarang bertemu, namun Rudi berjanji akan menghabiskan seluruh jatah cutinya untuk bersama dengan putrinya yang berusia 10 tahun itu. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk mengajaknya ke pantai kali ini, karena putrinya belum pernah pergi ke pantai.
Sekeliling mobil itu hampa, mungkin hanya satu mobil yang lewat dalam satu jam terakhir. Peta di ponsel pintarnya menunjukkan 10 kilometer lagi sampai di sana, dengan hanya garis lurus di depan yang terlihat seperti tak berujung. Deru mesin mobil mengisi telinga Rudi selama berjam-jam. Beberapa saat Rudi melihat sebuah cahaya jauh di depan sana. Cahaya itu seperti diarahkan ke langit. Menyala dan meredup beberapa kali sampai akhirnya menghilang dan meninggalkan kegelapan yang gulita. Rudi berpikir bahwa tadi hanyalah khayalannya saja karena ia hanya menatap sinar lampu depan mobilnya yang menyoroti jalanan di depan selain kegelapan. Tak lama kemudian sorot lampu depan meperlihatkan sebuah butiran-butiran kecil seperti salju. Namun di negara tropis ini, tidak akan pernah ada salju. Seorang anak kecil terlihat di depan dan Rudi reflek membelokkan mobilnya ke kanan dan memasuki sebuah ladang.
Rudi terbangun dari pingsannya dan melihat ke bangku belakang yang sudah kosong.
Ia keluar dari mobil, sekelilingnya gelap gulita. Dari dalam dashboard mobil terlihat layar ponsel masih membuka aplikasi peta yang kini bertuliskan “menentukan lokasi”. Rudi mengambil ponselnya dan menyalakan senter dari ponselnya. Tas anak perempuannya tidak ada. Ia melihat jejak kaki di tanah yang hampir mengering itu. Mungkin ke sana putrinya pergi, pikirnya. Dan ia langsung mengikuti jejak kaki itu. Tanpa ia ketahui, di pepohonan yang agak jauh di belakangnya bermunculan beberapa pasang mata yang mengawasinya menjauh dari mobilnya dan juga mereka.
Rudi mengikuti jejak itu beberapa lama hingga tersadar bahwa ia sudah memasuki sebuah pemukiman. Lampu-lampu menerangi sekitar, ia mematikan senternya. Jejaknya hilang di jalanan itu. Di kejauhan, seseorang keluar dari warung kopi. Ia berjalan menuju warung kopi itu. Penjualnya menatap Rudi ketika ia sampai di sana.
“Permisi, Pak. Saya mau tanya, ini di mana ya?” Penjual itu menatap Rudi beberapa saat sebelum menjawab.
“Duduk dulu, Mas. Mau minum kopi?” Tanyanya dengan nada datar.
“Bapak pernah lihat anak perempuan ini?” Rudi menunjukkan foto putrinya dari ponsel.
“Duduk dulu. Mas.” Ucap penjual itu.
Rudi duduk lalu penjual itu menaruh secangkir kopi di depannya. Ia meminumnya perlahan.
“Anaknya Mas gak bakal jauh-jauh, kok.” Rudi hampir tersedak mendengar kalimat itu.
“Maksudnya, Pak?” Raut wajah penjual itu berubah seperti ia ketakutan, ia mengambil cangkir kopi Rudi yang masih tersisa setengah.
“Lebih baik Mas tanya ke tempat lain saja. Saya ingin tutup.”
Tanpa sempat membuka mulut, lampu di warung itu dimatikan dan Rudi beranjak pergi.
Ia masih memikirkan kata-kata penjual tadi ketika ia melihat seorang anak kecil berdiri di sebuah gang. Anak itu masuk ke dalam gang ketika Rudi mengampiri. Ia mengejarnya hingga belokan-belokan. Rudi berhenti di tengah gang itu. Langit berwarna merah seketika. Ia berpikir sedang gerhana bulan merah yang memang akan terjadi menurut berita kemarin. Rudi melanjutkan menyusuri gang itu. Area sekitarnya semakin gelap padahal langitnya merah menyala. Ia membuka ponsel dan mengaktifkan senternya. Dinding-dinding bangunannya lembab. Sebuah tembok sebelah sana mengeluarkan cairan merah berbau busuk. Jejak kaki berwarna merah menuntunnya. Rudi mengikuti jejak itu sampai mencium bau yang sangat busuk menusuk penciuman. Ia menyoroti jejak merah hingga ke tembok yang kini bergelantung sesuatu yang tak bisa dikenali lagi. Entah itu adalah tulang rusuk yang sudah patah atau usus perut yang digunakan untuk mengikat leher sosok itu. Dagingnya habis entah kemana. Dan itu bukan anaknya, ia menguatkan batinnya, sosok itu seukuran orang dewasa. Dan itu, apapun itu, seharusnya sudah tidak bernyawa lagi.
Rudi hendak kembali ketika ia mendengar suara aneh dari tempat ia berasal. Ia menyoroti gang itu dan mendapati sesosok anak kecil tanpa kepala berjalan mendekat. Suara teriakan kecil dari kerongkongan yang terpotong itu sangat mengganggu pendengaran Rudi. Ia berlari sekencang mungkin, namun selalu mendapati jalan buntu. Sampai akhirnya ia tak bisa lari lagi. Kini ada lima sosok anak kecil tanpa kepala yang mendekatinya. Suara-suara teriakan aneh yang disertai cipratan darah dari kerongkongan itu membuat Rudi harus menutup kedua telinganya. Salah satu dari anak kecil itu melompat ke arah Rudi. Rasa terkejut itu membuat ia terbangun dari tidurnya. Itu hanya mimpi. Itu hanya mimpi? Ia terbangun di sebuah ruang tamu dengan seseorang yang asing baginya. Ia sadar ini bukan mimpi. Ini adalah mimpi buruk.
Baca lanjutannya di=> Parsial Kedua.
Leave a comment