Peter Pan telah tinggal sangat lama di hutan itu. Mungkin bisa dibilang bahwa ia yang memiliki hutan tersebut. Tak ada orang dewasa yang pernah masuk ke hutan tersebut. Para penduduk menamakannya Hutan Magis. Dikarenakan sering nampak hewan-hewan yang tak masuk di akal.
Banyak anak-anak dari desa yang pergi dari hutan itu dan tak pernah kembali. Hingga suatu hari salah satu anak keluar dari Hutan Magis dengan tatapan yang kosong. Kepulangan gadis kecil itu membuat heran seluruh warga. Orangtua nya menangis tak karuan, bersyukur anak mereka bisa kembali.
Sepulangnya gadis itu, tak ada sepatah katapun yang dikeluarkan dari mulutnya. Ia bahkan tak ingin makan, mulutnya terkunci rapat. Namun, saat tertidur, ia selalu menangis. Ibunya bahkan pernah melihat gadis itu menangis darah pada suatu malam. Sampai akhirnya gadis itu dibawa ke kota.
Dibawanya ke rumah sakit besar di kota. Bermacam-macam selang dimasukkan. Berbagai tes telah dilakukan. Namun pihak rumah sakit tidak menemukan kesalahan apapun selain kekurangan gizi. Hingga suatu hari, setelah ia dipulangkan dari rumah sakit. Gadis kecil itu meninggal.
Para warga sangat menyayangkan kepergian gadis itu, karena ia bisa menjadi sumber informasi tentang Hutan Magis.
***
Setahun berlalu, beberapa bayi telah lahir. Tiga tahun kemudian mereka semua menghilang ketika sudah bisa berjalan. Para warga sangat kesal, namun fakta bahwa mereka tak bisa berbuat apa-apa selain membuat anak lagi membuat mereka frustasi.
***
Suatu hari, sebuah kereta kuda berhenti di sekitar Hutan Magis. Sang kusir turun dan membuka pintu kereta. Seorang pria yang memijakkan kakinya ke tanah. Kumisnya yang tebal menghiasi bagian bawah hidungnya. Semua warga ada di sana melihat pria itu. Rupanya ia datang karena penasaran akan Hutan Magis yang beritanya tersebar di kota setelah gadis kecil itu di bawa ke sana. Pria itu membenarkan topinya serta mengambil tongkatnya. Ia berjalan menyusuri pinggiran Hutan Magis yang penuh dengan tanaman berduri yang sangat besar sehingga tidak mungkin seseorang, berapapun ukuran tubuhnya, bisa masuk atau bahkan keluar dari hutan itu.
Pria itu memutuskan untuk menginap di salah satu rumah di desa tersebut. Malam pun tiba, waktu menjukkan sekitar tengah malam. Pria itu mengambil mantel coklat nya dan pergi ke Hutan Magis. Ia menyalakan cerutunya sembari berjalan mengitari hutan. Pada saat ia menyesap asap terakhir cerutunya, ia melihat seseorang bertubuh lebih kecil darinya di kejauhan. Pria itu mengendap-endap. Sosok itu hanya berdiam di depan tanaman berduri yang kini membuka lebar sebuah lubang. Pria itu mendekat perlahan, namun sosok itu berhasil melihanya dan langsung masuk ke dalam. Pria itu mengejarnya hingga masuk melewati lubang tanaman berduri. Lubang menutup seketika pria itu di dalam. Nafasnya terengah-engah. Ia membuka matanya. Hutan itu sangat cerah. Pepohonan hijau di sana-sini. Burung-burung indah yang tak pernah ia lihat berterbangan kesana-kemari. Aroma manis ada di segala arah. Pria itu berjalan melihat sekitar.
Ia mengambil buah dengan warna biru langit dari salah satu pohon, menciumi lalu menggigit buah tersebut. Rasanya seperti buah apel dengan rasa semanis madu. Ia lalu melihat sosok itu lagi, kali ini terlihat jelas baju hijau yang dikenakannya. Sosok itu mengambang di udara dengan mudahnya lalu pergi dengan cepat. Pria itu langsung mengejarnya. Kaki-kakinya bergerak dengan cepat. Ia sampai di sebuah pohon besar dengan banyak lubang besar yang sepertinya bisa dimasuki.
Pria itu memanjat pohon tersebut. Sesampainya ia di atas sana, matanya menatap langsung ke dalam pohon. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berkedip sekalipun. Tubuhnya kaku. Kulitnya memucat.
Sosok itu berdiri di sana. Kecil. Seperti anak-anak. Namun bagian yang membuatnya tidak mirip sama sekali seperti anak-anak adalah wajahnya. Kedua mata tengahnya menatap si pria, sedangkan dua yang lainnya menatap apa yang ada di sampingnya. Sosok tersebut mendekat. Tangannya mengambil sebuah bola mata dari lantai. Lalu memasukkannya ke mulut dan ditelan bulat-bulat. Kakinya menapak di atas cairan-cairan merah gelap. Pria itu bisa mencium bau amis dan busuk menusuk hidungnya.
Sosok itu sekarang sudah sejarak satu jengkal dengannya. Nafasnya membuat indra penciuman pria itu tak dapat mencium bau manis lagi. Sosok itu meninggi hingga setara dengan pria itu. Wajahnya kini terlihat jelas. Sesuatu bergerak keluar dari lubang-lubang di kulit itu.
Kedua tangannya memegang kepala pria itu. Sosok itu memalingkan wajah pria itu ke belakang, menghadap hutan yang sekarang menjadi gelap dengan banyak kabut di sana-sini. Banyak tubuh anak-anak, tanpa kepala, tergeletak begitu saja di atas rumput. Kini tubuh pria itu sudah bisa ia gerakkan kembali. Pria itu berbalik menghadap sebuah mulut penuh gigi di bagian dalamnya yang sedang membuka lebar di hadapannya.
Leave a comment