PERINGATAN!
Pembaca di bawah umur 18 tahun dimohon untuk tidak membaca cerita ini.
Cerita mengandung kata-kata umpatan serta adegan-adegan vulgar yang cukup sensitif.
Baca dengan resiko masing-masing. Terima kasih.
“Ada yang bilang ia jatuh dari lantai atas.”
“Kurasa itu mustahil, maksudku, dia masih SMP! Gadis bodoh macam apa yang akan melakukan hal seperti itu? Maaf soal kata-kataku, tapi memang benar kan?”
“Ya, kudengar polisi menemukan buku miliknya. Seseorang yang bunuh diri pasti pernah menceritakan apa yang dirasakannya kepada seseorang ataupun sesuatu.”
—
1 Januari
Selamat tahun baru! Semoga di tahun ini akan lebih membahagiakan daripada tahun-tahun sebelumnya. Aku mungkin akan menceritakan apapun di sini, dan aku yakin tidak akan ada yang bisa menemukan buku ini! Oke, dah!
2 Januari
Hari kedua di tahun yang baru sangat membosankan, aku enggak ngapa-ngapain selama seharian penuh ini. Ibu juga hanya tertidur di kasurnya semenjak ia sakit. Oh ya, aku mencuci piring dan membersihkan rumah. Tapi tetap saja bosan. Ingin cepat-cepat bersekolah.
3 Januari
Bertemu Rian hari ini saat ingin ke mini market. Uang yang seharusnya aku belanjakan jajanan malah habis diambilnya. Ingin sekali aku menghajar anak itu, tapi aku pasti akan kalah. Sudahlah, tak ada gunanya membicarakan dia.
9 Januari
Maaf aku baru sempat menulis lagi. Karena kupikir tidak harus setiap hari menulis di sini, jadi mungkin aku akan memberitahu jika ada sesuatu yang baru. DAN SEKARANG ADA SESUATU YANG BARU!!!! Besok akan masuk sekolah! Semester baru dengan teman-teman brengsek lama, maaf! Entah kenapa aku sangat menyukai sekolah walaupun ada orang-orang itu, aku tidak terlalu suka di rumah. Ibu sudah membaik, dan ya, mulai memaki-maki segalanya kembali. Keramaian yang aku benci. Intinya, aku tidak sabar untuk besok! Dah!
10 Januari
Hari paling sial! Sial! Sial! Sialan! Harusnya aku tadi menendang kemaluannya! Aku kira hari ini akan menjadi yang paling bahagia untukku. Hari pertama sekolah di tahun yang baru. Satu kata: Bangsat!
Oh, maaf aku tidak menceritakan. Rian dan beberapa anak cowok lainnya, serta cewek, tak henti-henti mengatakan bahwa aku ini “anak lonte”. Ibuku bukan lonte! Dia ditinggal oleh lelaki bajingan! Sudah, aku ingin tidur, terlalu lelah dengan semua ini.
12 Januari
Semua gadis seumuranku katanya sudah banyak yang mengalami menstruasi, tapi kenapa aku belum? Aku bertanya pada Ibu tapi malah membentak tak karuan. Ibuku sudah seperti itu sejak beberapa bulan lalu. Si lelaki bajingan datang, kaget melihatku. “Aku menyuruhmu untuk menggugurkannya!” Satu tamparan. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tangannya ditarik, masuk ke dalam kamar, pintu dibanting. Sesuatu menghantam tembok. Suara teriakan. Suara tamparan berkali-kali dengan cepat. Setelah beberapa saat semuanya sunyi. “Sekarang kamu urus yang satu ini!” Pintu terbuka. Si lelaki bajingan pergi, tak pernah kembali lagi.
Semenjak itu Ibu tidak pernah berbicara dengan jelas, matanya pun selalu kosong. Maaf aku menceritakan ini. Dah.
13 Januari
Ada guru baru! Pak Bendi yang mengajar B. Indonesia sekaligus wali kelasku. Sangat-sangat ganteng!!! Dia menyuruh diam saat Rian mengejekku “anak lonte”. Seharian penuh aku tidak mendengar kata-kata itu lagi. Pak Bendi sangat hebat. Dia juga membantuku mengerjakan PR Bahasa Indonesia sore tadi di kelas. Semoga semuanya menjadi lebih baik semenjak ada Pak Bendi!
—
“Korban jatuh dari lantai tiga. Tengkorak kepala retak. Pihak kepolisian juga sedang menyelidiki buku si korban.”
“Kasihan sekali. Oh, ngomong-ngomong kau sudah dengar gosip bahwa—oke, maaf, aku hanya ingin teman berbagi.”
“Saya yakin ada yang aneh.”
—
18 Januari
SELAMAT ULANG TAHUN!!!
Ulang tahun paling membahagiakan! Pak Bendi memberikanku coklat ketika aku sedang membuat resensi buku Animal Farm. Beliau bilang ini sebagai hadiah karena aku tak pernah lalai mengerjakan PR dan juga sebagai hadiah ulang tahunku! Dia tahu ulang tahunku! Bahkan seisi kelas pun tak ada yang mengetahui. Oh ya ampun, perutku rasanya menggelikan ketika mengingat hari ini.
20 Januari
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kami berciuman! Dan sepertinya tidak hanya itu. Dia menyuruhku untuk duduk di pangkuannya dan ia hanya mengguncang-guncang tubuhku dengan lambat. Ada sesuatu di bawahku. Celananya basah, entah karena apa, mungkin ia kencing di celana? Entahlah. Aku langsung pulang sehabis itu. Perutku merasa geli kembali.
24 Januari
Murid kelas tiga kudengar akan pergi ke Yogyakarta untuk perpisahan, aku penasaran tahun depan aku akan ke mana. Oh ya, Pak Bendi menyentuh dadaku. Katanya ia akan membantuku untuk membesarkannya, aku tidak percaya apakah bisa membesarkan dada hanya dengan digenggam-genggam saja?
26 Januari
Sakit. Sekali. Punya nya masuk ke anu ku. Pak Bendi bilang aku tidak harus mengerjakan PR selama sebulan jika aku mengizinkannya memasukkan itu.
—
“Hasil otopsi akan keluar beberapa hari lagi. Untuk saat ini kami sedang mencari pelaku.”
“Saya kurang tahu deh. Saya enggak terlalu kenal sama Santi. Rian kenal sama dia. Rian!”
“Dia emang aneh. Ibunya kan, maaf ya, lonte, maaf! Memang turun-temurun sepertinya.”
“Ibunya bunuh diri baru kemarin setelah mendengar anaknya meninggal. Bagaimana? Ya tidak tahu, kok tanya saya.”
—
2 Februari
Tebak aku sedang ada di mana. Aku menulis di kamar mandi sekolah! Aku membawa buku ini sekarang, agar aku bisa menuliskan apa yang sedang terjadi. Sudah bel masuk! Dah!
Pak Bendi melihat ke arahku saat menjelaskan, tatapannya membuat perutku saat ini geli. Dia berjalan ke sini!
Lelah sekali. Dia tadi sempat melihat tulisanku, buru-buru kututup. Katanya jika aku tak memberitahu apa yang kutulis aku akan dapat hukuman. Aku membandel tidak memberitahu, lalu dia kembali berjalan. Hukumannya ternyata hanya guncangan tubuh yang sangat kencang.
4 Februari
Aku saat ini sedang di kelas yang sepi, semuanya sedang beristirahat. Aku pura-pura menulis tugas yang diberikan olehnya. Begini, aku ingin memberitahunya tentang buku ini. Semoga dia suka!
—
“Ada beberapa bekas luka di permukaan kelaminnya. Diduga korban pernah diperkosa, sering. Pelaku masih dalam pencarian. Berkat saksi mata yang memberitahu detail kejadian pada hari itu, dan berkat buku yang ditemukan oleh saksi, kami menyelidiki lebih dalam tentang sang pelaku.”
“Iya. Aku melihatnya. Saat itu aku sedang ingin ke kelas tapi ketika melihat Santi yang sedang duduk di pangkuan Pak Bendi, aku berhenti di jendela. Mengintip. Memang saat itu lorong sedang sepi. Lalu Santi memperlihatkan sebuah buku kepadanya. Setelah beberapa lama melihat buku itu, Pak Bendi mengangkat tubuh Santi. Dia menamparnya. Berteriak padanya. Buku itu dibuang ke pojok kelas tanpa dilihat oleh Pak Bendi yang melemparnya. Santi dibentak dengan kata-kata sangat kasar. Dia lalu berlari ke luar kelas, ke pinggir pagar. Pak Bendi menghampirinya, Santi mundur. Lalu saat Pak Bendi mendorongnya ke belakang dengan sangat kencang, Santi tersandung dan langsung terjun ke bawah. Saat itu aku panik dan berteriak sambil berlari menjauhi Pak Bendi. Sampai sekarang beliau tidak pernah terlihat.”
Leave a comment