Matilah, dan lihat dunia berjalan menjauhimu yang sudah berhenti.
“Bangun! Ada Pak Budi!” Arif mengguncang-guncang tubuhku yang sedang tertidur di mejaku, aku terkesiap dan menegakkan tubuhku. Namun seisi kelas masih riuh, tidak ada guru. Arif tertawa, “makanya jangan tidur mulu! Mimpi apa sih kamu memangnya?”
Arif dan aku sudah bersahabat semenjak Sekolah Dasar, jadi ya, kami selalu duduk bersebelahan. Semenjak keluargaku sudah tiada, hanya Arif yang kupunya, keluarganya menampungku sampai saat ini. Jadi, kita lebih seperti adik kakak dibanding sahabat.
“Yo, nanti sore pergi yuk!” Ucap Arif sambil menyeruput kuah baksonya dengan sendok, “Rendi sama yang lain bilang ada pasar malam di dekat Maharaja. Kita pergi bareng mereka aja, soalnya aku nggak terlalu hapal jalan ke Maharaja.”
“Maharaja? Kompleks perumahan elite itu? Nggak ah!” Aku langsung menolaknya, “Kau kan tahu sendiri gimana kelakuan anak-anak daerah sana, kita pasti langsung babak belur sebelum kita naik bianglala. Atau, kita pasti bakal naik bianglala, tapi hanya dengan pakaian dalam kita!” Kompleks Maharaja adalah perumahan orang-orang kaya, yang memiliki anak-anak tergila di kota ini. Semua kasus orang hilang sering terjadi di kompleks ini, tidak sedikit pula dari mereka yang terlibat dengan kepolisian, namun selalu saja kompleks itu bersih namanya karena… kita semua pasti tahu karena apa.
“Kita bakal aman.” Arif bekeras kepala, “kita pergi bersama Rendi dan teman-temannya. Kudengar Rendi jago berkelahi, dia bisa jadi penjaga kita.”
“Sebaik apa kamu mengenalnya? Dia baru masuk kurang dari dua minggu di sekolah kita.” Tanyaku. Itu membuat Arif diam. Sebenarnya, aku sedikit tidak suka—sangat tidak suka—dengan Rendi. Bukan karena dia lebih pintar dan memiliki pakaian yang bagus di antara para murid kelas, namun karena dia bertingkah seolah-olah pemimpin kelas. Dan entah apa yang dilihat Arif sehingga dia sangat ingin menjadi temannya.
Arif sedang mendengarkan Rendi berbicara kepada teman-temannya, kadang mereka tertawa. Lalu Arif berbicara kepadanya, aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena kami berjarak beberapa meja dan keadaan kelas sangat riuh seperti jam kosong lainnya. Terkadang aku juga tidak habis pikir dengan Rendi, maksudku, SMP ku bukanlah sekolah yang sangat bagus. Dan Rendi masuk saat pertengahan semester satu, satu setengah semester lagi kami akan lulus. Oh iya, dia pintar, dan kaya mungkin.
Di sekolah kami jarang ada murid yang pintar, lulus dari SMP mungkin akan langsung bekerja atau meneruskan pertanian orang tua. Ya, kota kami masih mengandalkan para petani. Dan tak sedikit dari kami yang menjadi pembantu di perumahan elite itu. Tak banyak yang memikirkan untuk melanjutkan pendidikan, itulah sebabnya tidak ada sekolah yang lebih tinggi dari SMP di sini. Aku memikirkan tentang melanjutkan pendidikan di luar kota, aku tak enak hati jika terus-menerus membenani keluarga Arif. Mungkin itu juga yang diinginkan Ayah dan Ibuku. Mereka menghilang ketika sedang di sawah, yang saat itu sedang panen. Tidak ada yang sadar akan kehilangan mereka hari itu, hingga akhirnya malam hari tiba dan mereka tak kunjung pulang. Aku bertanya pada Ayahnya Arif, saat itu aku masih kelas 3 SD. Akhirnya semua warga ikut mencari. Namun hasilnya nihil. Aku pulang ke rumah sendirian lewat tengah malam ketika semua warga sudah kembali pulang dan memutuskan untuk melanjutkan pencarian besok. Mereka di sana, kedua orang tuaku, tergantung telanjang di langit-langit rumahku dengan sayatan bertuliskan “HUTANG” menyambung dari perut ibuku ke perut ayahku. Aku berteriak sangat keras.
“Kita jadi ke pasar malam.” Ucap Arif sembari menghampiriku, “Rendi bilang ‘tenang aja, ada kita.’ gitu.”
Aku tak bisa menolak lagi, jika memang Rendi anak baik dia akan menjaga kami. Toh sepertinya Arif sangat percaya padanya, aku juga harus begitu.
Matahari sudah hampir terbenam, aku mengeluarkan sepeda Arif. Arif bilang mereka akan menunggu di depan sekolah karena Arif tidak tahu rumah Rendi. Aku mengayuh sepeda dengan Arif yang berdiri diatas jalu sepeda di belakangku. Sekolah tidak jauh dari sini. “Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?” Tanyaku.
“Nggak tahu. Aku belum menentukan, mungkin meneruskan pertanian ayah.” Jawab Arif.
“Kamu belum kepikiran buat lanjutin sekolah?”
“Untuk apa? Kita nggak dapat apa-apa jika punya pendidikan tinggi di kota ini. Lebih baik aku kerja dan dapat uang. Kau sendiri bagaimana?” Kini dia balik bertanya.
“Aku melanjutkan sekolah, ke luar kota jika perlu.”
“Uang darimana?”
“Bekerja.”
“Bekerja di mana?”
Aku mengeluh, “bekerja di sini….” Jawabku. Dia tertawa.
“Memang sudah takdirmu, Aryo, untuk menetap di kota ini.” Arif menepuk-nepuk punggungku penuh kemenangan.
Matahari sudah terbenam ketika kami sampai di sekolah, dan benar, ada Rendi dan teman-temannya di sana. Kami langsung berangkat, syukurlah kami semua menggunakan sepeda supaya lebih cepat sampai.
Kami masih setengah perjalanan, sekiraku, ketika Rendi mengajak kami untuk ke rumahnya terlebih dahulu. Kami terus mengikuti Rendi yang masih di jalan yang sama seperti tadi. Sebuah rumah terlihat dari kejauhan, lalu rumah lagi, dan lagi, dan lagi. Kompleks Maharaja. Sebuah cahaya bianglala terlihat. Rendi berhenti di salah satu rumah. Jantungku berdebar. Rendi tinggal di sini.
“Masuklah.” Ajak Rendi.
“Bukannya kita ke pasar malam?” Tanya Arif.
“Habis ini kita akan ke pasar malam.” Jawab Rendi.
Teman-temannya masuk, lalu aku mengikuti Arif masuk. Rumahnya terlihat sangat mewah. Segalanya pasti mahal. Rendi menyuguhkan kami minuman dengan teko dan gelas-gelas kaca. Orang tuanya tak lama masuk ke ruangan kami, mereka menanyakan namaku dan aku menjawabnya. Wajah mereka terlihat serius. Lalu mereka bilang untuk jangan pulang larut malam dan pergi kembali ke ruangan lain. Aku meminum minuman rasa jeruk manis tersebut. Aku menghabiskannya. Yang lain ikut meminumnya. Lalu kami mengobrol tentang sekolah, rambut Pak Dodit yang tak kunjung tumbuh, dan hal-hal lainnya. Aku menyimak obrolan tersebut sambil menahan kantuk. Aku lalu menyamankan posisi dudukku di sofa yang sangat empuk ini, dan terlelap.
Semua orang telah pergi ketika aku terbangun, jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Bagaimana aku bisa tertidur sampai jam segini? Dan ke mana yang lain? Batinku terus menanyakan hal tersebut. Aku membuka pintu, namun itu tak bisa dibuka. Ada suara dari arah dapur. Aku menghampiri. Bercak merah di lantai. Jejak merah perlahan terlihat, seakan keluar dari lantai. Sesuatu diseret di atas cairan merah itu. Ada banyak di sofa tadi aku duduk. Mengarah ke dapur. Sebuah tangan tergeletak dari pintu kamar mandi. Dua orang dewasa berbincang. “Sekarang hutang keluarga bocah miskin ini sudah lunas.”
Aku berlari ke arah pintu, namun tak bisa membukanya. Apa yang terjadi? Perlahan sebuah ingatan muncul. Seseorang meminum minuman, tersedak dan mengeluarkan banyak darah. Orang yang lain berteriak, dibawa ke suatu ruangan lain. Orang yang tersedak mirip denganku. Itu aku. Cairan merah, darah, mengalir deras keluar dari mulutku. Memuntahkan. Aku di seret, melewati dapur, menuju kamar mandi. Seseorang dewasa berbicara. “Sekarang hutang keluarga bocah miskin ini sudah lunas.”
Aku mati, dan menyaksikan dunia berjalan menjauhiku yang sudah berhenti.
Leave a comment